Selasa, 10 Desember 2013

Teori CSR


Sumbangsih Ilmu Komunikasi Dalam CSR
Ada berbagai macam teori yang berkembang di dalam ilmu komunikasi. Teori-teori tersebut menjadi dasar pemikiran atas penelitian penelitan di bidang komunikasi serta aplikasi langsung dalam praktik kegiatan komunikasi sehari hari.  Salah satu penggunaan teori dalam praktik kegiatan komunikasi sehari hari adalah digunakannya teori tersebut untuk mendasari kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) dari suatu perusahaan. Sebagaimana hakekatnya untuk mendasari, teori digunakan untuk memberi landasan terhadap kegiatan apa saja, bagaimana kegiatan tersebut, serta efek apa yang akan terjadi jika kegiatan tersebut dilangsungkan. Oleh karena itu, sebaiknya kegiatan CSR menggunakan teori teori komunikasi yang relevan untuk mendasari kegiatannya agar nantinya jelas tahapan serta hasil apa saja yang ingin diperoleh.
Yang pertama, Theory of persuasion bisa digunakan dalam sebagai salah satu dasar untuk melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR).  Teori ini membahas mengenai cara untuk mempengaruhi dalam hal kepercayaan (belief), nilai (value), motif (motive), perilaku (attitude), serta kebiasaan (behavior) orang maupun khalayak mengenai suatu hal namun tanpa tindakan yang memaksa baik. Teori ini menekankan bahwa untuk membujuk (persuade) seseorang membutuhkan alasan yang relevan dan sesuai dengan kehidupan dan lingkungan orang yang akan dipengaruhi. Biasanya teori ini digunakan di dalam bidang pemasaran serta periklanan, namun, teori ini juga cukup erat kaitannya dengan bagaimana suatu perusahaan melaksanakan CSR-nya.
Dalam CSR, hal yang ingin dilaksanakan tentunya membuat khalayak percaya akan reputasi positif mereka serta reputasi dimana keberadaan perusahaan tersebut tidak memiliki ancaman negatif apapun bagi  masyarakat. Theory of Persuasion ini kemudian akan sangat tepat dalam membantu kegiatan CSR untuk melakukan kegiatan persuasif-nya terutama dalam memilih metode serta efek apa yang nantinya akan terjadi jika metode tersebut dilangsungkan. Walaupun kegiatan CSR tujuannya bukan untuk tindak pemasaran, akan tetapi bentuk kegiatan CSR juga bisa dibilang tidak jauh dengan tindak pemasaran karena bagaimanapun juga mereka mengemas dan kemudian memasarkan citra mereka ke masyarakat, walaupun, sekali lagi, bukan tujuan tersebutlah yang menjadi fokus utama kegiatan CSR. Oleh karena itu, persuasif sangat dibutuhkan untuk mebujuk masyarakat agar mau menerima citra yang diberikan oleh perusahaan tersebut dan kemudian mempercayainya sebagai sesuatu yang benar.
Jika dilihat dari tujuan awal CSR yaitu melakukan pertanggungjawaban sosial yang antara lain adalah melakukan tindakan yang dapat membangun masyarakat di daerah sekitar perusahaan, teori ini juga bisa dijadikan pegangan untuk mempersuasi masyarakat agar mau melakukan hal hal yang dianggap baik oleh perusahaan tersebut. Seperti misalnya, di beberapa daerah mempercayai bahwa perempuan tidak sepantasnya untuk belajar membaca dan menulis selayaknya pria. Dalam kasus ini CSR bisa menggunakan teori persuasi ini untuk membujuk masyarakat agar mau memperbolehkan para wanita untuk belajar membaca dan menulis. Persuasi semacam ini merupakan kegiatan yang bisa memperbaiki kehidupan sosial di masyarakat tersebut serta merupakan hal yang dapat meningkatkan citra perusahaan apabila terekspos oleh media.
Teori yang kedua, Stakeholder Theory. Teori ini membahas bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat bagi stakeholdernya yaitu pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat. Dengan demikian, keberadaan suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan oleh stakeholder kepada perusahaan tersebut. Kelangsungan hidup perusahaan tergantung pada dukungan stakeholder dan dukungan tersebut harus dicari sehingga aktivitas perusahaan adalah untuk mencari dukungan tersebut. Makin powerful stakeholder, makin besar usaha perusahaan untuk beradaptasi.[1] Pengungkapan sosial dianggap sebagai bagian dari komunikasi antara perusahaan dengan stakeholdernya. Karena berbagai perusahaan menginginkan dukungan agar kelangsungan hidupnya terus berjalan, mereka menjadikan stakeholder (masyarakat dalam ruang lingkup perusahaan) adalah kepentingan kedua setelah kepentingan perusahaan yaitu mencari keuntungan. Sehingga, perusahaan menerapkan perusahaan ramah dan peduli lingkungan yang kini sudah bukan merupakan suatu tanggung jawab lagi, melainkan kewajiban yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan. Oleh karena itu, Stakeholder Theory ini dapat dinyatakan sebagai teori yang melandasi akan adanya CSR, dimana penerapan teori stakeholders tersebut yaitu dengan melaksanakan beberapa kegiatan kepada stakeholders, mulai dari melakukan kegiatan yang dapat menyejahterakan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak-anak tidak mampu, pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk desa atau fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak khususnya masyarakat yang berada pada lingkup perusahaan tersebut berada.   
CSR memiliki peranan penting dalam menjaga hubungan perusahaan dengan pihak eksternal, terutama lingkungan sosial. Lingkungan sosial merupakan bagian yang sangat berkaitan dengan perusahaan karena lingkungan sosial merupakan bagian yang paling dekat dengan perusahaan.  Sepeerti halnya mahluk lain, perusahaan juga tidak dapat hidup sendiri, melainkan ada faktor pendukung, salah satunya adalah lingkungan sosial. Lingkungan sosial merupakan penyedia sumber daya alam serta sumber daya manusia bagi perusahaan. Oleh karena itu diperlukan adanya hubungan baik antara perusahaan dengan lingkungan sosial. Dalam teori komunikasi, hubungan antara perusahaan dengan lingkungan eksternal maupun internal termasuk dalam Teori Sistem.
            Teori yang ketiga, Teori Sistem menjelaskan tentang hubungan perusahaan dengan lingkungan ekternal maupun internalnya. Teori ini juga memandang bahwa organisasi/perusahaan merupakan bagian yang terkait serta mampu beradaptasi dengan situasi politik, ekonomi, serta sosial di tempat perusahaan itu berada sehingga tujuan dari organisasi/perusahaan tersebut dapat tercapai. Grunig dan Dozier menyatakan bahwa perspektif dalam Teori Sistem ini menjelaskan adanya keterkaitan antara perusahaan dengan lingkungan eksternal maupun internal. Karena organisasi/perusahaan memiliki keterkaitan tinggi dengan lingkungan sekitarnya, misalnya tentang ketersediaan barang mentah, para pekerja serta produksi yang dihasilkan.
            Dengan adanya Teori Sistem inilah para CSR dari berbagai organisasi/perusahaan dapat meningkatkan hubungan antara perusahaannya dengan lingkungan eksternal serta dapat melakukan evaluasi terhadap perusahaan karena antara lingkungan sosial dan perusahaan memiliki hubungan yang saling terkait. Selain itu dengan adanya Teori Sistem CSR dalam perusahaan dapat terus menjaga hubungan baik antara perusahaan dengan lingkungan dimana perusahaan itu berada agar bisa mencapai tujuan dari perusahaan tersebut.

Referensi:
Shrum, L. J., Min Liu, Mark Nespoli, and Tina M. Lowrey. 2012. Persuasion in the         Marketplace: How Theories of Persuasion Apply to Marketing and Advertising. (Ebook)
Sadono sukirno. Dkk, Pengantar Bisnis, Jakarta : prenada media, 2004, h 352
http:     //komunikasi-indonesia.org/2010/12/teori-sistem-public-relations/



[1]  Gray, Kouhy dan Adams (1994, p. 53)

Senin, 10 Juni 2013

Koes Plus Aja Pernah di-PHP-in

PHP. Begitulah anak muda jaman sekarang menyebutnya. Dewasa ini istilah tersebut sangat populer di tengah-tengah masyarakat modern. Semua menyebar dengan cepat melalui akses media internet. Satu orang membuat status bbm, fb, ataupun twitter mengenai PHP, satu juta orang dapat meretweet, like, dan broadcast hal itu. 

Apasih sebenarnya PHP itu ? dari kepanjangannya, PHP adalah Pemberi Harapan Palsu. PHP dialami oleh seseorang saat ia tengah diiming-imingi hingga tergiur, namun di tengah  kegiurannya itu dengan tiba-tiba terputus karena seseorang yang meng iming-imingi tersebut pergi begitu saja tanpa meninggalkan bekas. Bekas sedih dan merasa diremehkan atau dibohongin mungkin. 

PHP sebenarnya sudah muncul sejak dulu, saat orangtua kita masih muda. Namun, maknanya sudah berbeda walaupun benang merahnya masih sama. Jika makna PHP sekarang adalah Pemberi Harapan Palsu, maka PHP jaman dahulu adalah Bahagia Dan Derita, jika disingkat menjadi BDD. Hal tersebut dibuktikan dengan lagu-lagu hits papan atas jaman dahulu. Sebut saja Koes Plus. Koes Plus pernah membuat karya lagu yang mungkin intinya jika dibahasakan dengan bahasa jaman sekarang adalah PHP. Berikut ini lirik lagunya. 


Tlah lama ku mengertiDia datang atau pergiDerita dan bahagia terjadiTiada bersama-samaPernah aku alamiBahagia dalam hatiTerasa hanya sehari terjadiBerganti duka di hati

Reff :KualamiBahagia dan deritaSaling silih bergantiDatang dan pergi datang pergi lagi


Tlah lama ku mengertiDia datang atau pergiDerita dan bahagia terjadiTiada bersama-sama

Yah begitulah kira-kira. Ternyata PHP sudah ada sejak dulu, dan dialami oleh tetua (senior) kita. Mungkin, kita pernah merasakannya. Sering malah. Tetapi saya yakin, semua pasti ada jalan keluarnya. Dan yang terpenting adalah semua yang kita lalui di dunia ini adalah sudah ditentukan oleh Tuhan. Kita mungkin saja sering memberontak ketentuan itu, karena mungkin terkadang terasa sakit. Tetapi ketentuan Tuhan tak bisa digugat, dan itu adalah ketentuan terbaik dari yang paling baik jika kita menyadarinya. Semoga bermanfaat, don't say give up and don't cry too much :'D

Kamis, 06 Juni 2013

Steve Irwin Indonesia

Beberapa bulan yang lalu saya dan dua teman seperkuliahan memutuskan untuk menikmati liburan setelah ujian akhir semester. Kami yang berdomisili Yogya sempat kebingungan mengenai tempat tujuan apa yang sebaiknya dipilih untuk menikmati waktu senggang. Setelah mencari-cari akhirnya kami menemukan tempat yang pas, yaitu Gembira Loka. 

Setelah sampai di tempat tujuan, kami segera menelusurinya dengan sangu peta Gembira Loka. Kandang demi kandang hewan pun kami lewati dengan senyum lebar. Hingga sampailah kami di kandang reptil. Di barisan sana ada buaya, komodo, kadal, dan lain sebagainya. Saya berhenti cukup lama di depan kandang buaya, karena memang banyak jenis buaya yang dipamerkan sehingga menarik perhatian saya untuk mengambil gambar. Sembari bercuap-cuap melihat buaya, tiba-tiba ada dua orang laki-laki berpakain kaos santai dan celana pendek, bertopi dan bersepatu boots karet. Mereka membawa satu buah peralatan berupa sapu lidi. Dengan langkah yakin dan bersemangat, mereka lewat di depan kami sambil berkata 

"Permisi ya mbak..." 

Dua orang laki-laki itu berpencar menuju ke dua tempat yang berbeda. Laki-laki yang sudah cukup usia dibandingkan dengan temannya itu, berjalan santai menuju pintu kandang buaya. 

"Ceklek ceklek ngeeek" 

Ia membuka pintu itu dan...........  pintu kandang yang berisi buaya jenis besar itu pun terbuka penuh. Kami melongo dan mundur pelan-pelan sembari saling memandang. 

"Mm... pak pak kok dibuka pintunya nanti kalo buayanya icul gimana tuh pak...". Saya bertanya lirih.

"Woh woh pak ngawure!". Ucap khas teman saya ketika ada sesuatu hal yang tidak lazim. Sebut saja dia Hana.

Kira-kira seperti itulah percakapan yang terjadi selama tindakan mengagetkan yang dilakukan laki-laki tersebut. Mendengar kami yang kontan kaget dan khawatir dengan terbukanya pintu kandang buaya itu, bapak tersebut hanya melontarkan senyum misterius (menurut saya) dan malah menambah kecemasan kami dengan masuk ke kandang. Karena penasaran apa yang akan terjadi di kandang tersebut, kami pun menontonnya via pintu yang menganga lebar itu dengan posisi jongkok kuda-kuda dengan tujuan ancang-ancang lari jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak. 

Ternyata laki-laki tersebut adalah petugas kebersihan Gembira Loka bagian kandang buaya. Kami dapati ia berlenggang santai menyapu seakan-akan sembari bercakap-cakap dengan buaya tersebut, 

Woi dab pie kabare ? Aku tak nyapu kandangmu sek yo ben resik. Nek resik kan ngko gajiku ditambah "







Kami bertiga terpelongo melihat bapak tersebut semakin mendekat ke arah buaya. Namun kami tidak mendapati suatu kecelakaan apapun, justru si buaya sepertinya merasa terganggu dengan keberadaan kami yang sedari tadi iyik (tindakan ga nyantai). Sehingga kami pun memutuskan untuk memanggil bapak tersebut Steve Irwin Indonesia. 



Jumat, 31 Mei 2013

Loh kok sendal ku ilaaang ??

Saya mau cerita sedikit mengenai sebuah pengalaman singkat dengan kebudayaan orang luar jawa tanpa ada maksud menyinggung ras. Sekali lagi ini cuma pengalaman singkat saya.

Hari Minggu di bulan Mei 2013 aku digertak untuk menjalankan sebuah tugas kuliah, untuk menjalankan tugas tersebut saya dan kelompok harus menyisiri jalan raya yang padat dan terik sampai pada tempat tujuan kami Imogiri. Pagi itu sebelum berangkat, kami berkumpul terlebih dahulu di asrama milik teman sekelompok saya, sebut saja Mawar. Ia adalah perantau dari Bontang Kalimantan Timur, begitupun dengan teman-teman satu atapnya. Saya datang agak terlambat, sehingga teman-teman yang lain sudah menyambinya dengan menigisi perut. Beberapa menit kemudian, saya dan teman-teman beranjak dari kamar asrama dan menuju ke teras bersiap untuk berangkat. Disitulah tiba-tiba dua teman saya tingak-tinguk kebingungan,

"Loh kok sendal ku ilaaang ??". Pengajuan tanya oleh salah seorang teman saya asal Jogja.
"Iya, sandal ku juga hilaaang". Sahut teman saya yang lainnya, asal luar jawa.

Kami pun bertanya-tanya kemanakah perginya sandal-sandal teman saya ? Setelah kita cari disana dan disini terntaya ada disitu, maksudnya di tong sampah. Heran setengah kaget memang, mengapa sandal merek sowalo milik teman saya ada di tong sampah dengan peletakan yang sangat sengaja. Sembari teman-teman saya yang lain teriak lirih keheranan diiringi pisuhan, kami mencari satu sandal lagi yang hilang entah kemana hanya dalam waktu sekejap. Akhirnya salah seorang teman saya si Mawar mengatakan bahwa ketua asramalah yang membuang sandal-sandal tersebut, karena ia adalah pejabat baru yang memang berwatak keras dan disiplin. Mendengar keterangannya itu kami kompak membentuk huruf O di mulut kami.

Saya pun mencari letak kesalahan kami, ternyata di depan teras tersebut sudah ada perintah untuk meletakkan sandal japit pada rak yang tersedia, namun kami luput karena kebudayaan orang jawa yang jika dibahasakan, "Wes benke wae nanti lak yo ada yang ngrapihin" telah melekat dibenak dan kehidupan kami sehari-hari. Dari situlah aku berpikir bahwa kebudayaan orang luar jawa sangat kontras dengan orang jawa, jika kebudayaan luar jawa saya menyimpulkan bahwa semua yang diperintah harus dilaksanakan, jika melanggar maka akan langsung diberi sangsi tanpa terlebih dahulu mengingatkannya. Beda dengan orang jawa yang cuma bilang "Nyuwun sewu, sandale menika dipun lebetaken wonten rak nggih mas mbak...nyuwun ngapunten, monggo..." jika melihat kesalahan semacam tidak meletakkan sandal ke dalam rak.

Oh iya lupa, ternyata nasib sandal teman saya dibuang dimana hayoo... jeng jeng jeng ternyata diterbangkan di basement alias tempat parkir yang ada di bawah bagunan. Puk-puk teman saya. Untung saya pakai sepatu :p 

-kisah nyata-

Senin, 27 Mei 2013

Faktor X

         Waktu berputar sangat cepat hingga tidak memberiku celah untuk beristirahat sejenak. Capek dan kecewa. Hari demi hari kulalui sia-sia, bagaimana tidak ? jika dalam perkuliahan ini aku merasa tidak mendapatkan keahlian khusus apalagi ilmu yang benar-benar mendarah daging. Semua tampak semu dan seperti fatamorgana. Mengikuti proses kuliah namun tak mengambil intisarinya. Ya, itulah aku. Dan itu kesalahanku. Diluar dunia kuliah, tidak ada yang harus aku banggakan dari diriku. Sudah bertahun-tahun dalam diri ini tidak ada perubahan, fisik dan sedikit psikis. Orang lain berlari sedangkan aku masih duduk santai berangan-angan.  Perubahan yang dialami oleh orang lain berjalan dengan lancar dan semestinya, kini mereka menjadi semakin menonjol dengan derajat yang tinggi. Sangat lain denganku yang masih melamun berangan-angan tanpa melakukan sesuatu untuk berubah. Niat itu ada dan selalu tertanam dalam benak, namun tidak direalisasikan. Aku juga heran, dan mungkin sudah sangat bosan dengan niat ku untuk berubah itu. Peluang terbesar untuk perubahan itu aku rasa hanya satu selain dari diri sendiri, yaitu orang lain, sebut saja faktor X (biar keren) yang menurutku harus diperjuangkan sehingga minimal aku terpaksa berubah demi orang lain itu. Yo wes gitu aja, aku mumet dan sedikit sedih dengan keadaanku yang sekarang intinya, semoga bacaan ini dapat menjadi motivasi bagi orang lain.

Minggu, 26 Mei 2013

Berawal Dari Mirota

Aku tergeletak merenung di kasur dan menemukan sesuatu dalam ingatanku mengenai kejadian dua hari yang lalu. 
Malam hari di sebuah swalayan yang cukup terkenal, bernama Mirota. Saat itu aku diperintah oleh sang ibu untuk belanja bahan-bahan untuk memasak. Seperti biasa, toko penyedia segala macam kebutuhan masyarakat dengan harga mahasiswa itu selalu dipadati oleh pengunjung, alhasil antrian yang panjang juga selalu menghiasi disetiap barisan kasir. Aku pun mengantri tepat di belakang ibu-ibu dengan satu anak, ia berdiri mengantri dengan anak laki-lakinya yang masih kecil sekitar 5 tahunan. Tak lama kemudian sang ibu berbicara pada anaknya tersebut,

"Dek, kamu tunggu sini ya, Ibu mau liat kesana dulu". Jari telunjuknya menunjuk ke arah kebutuhan sandang.

Sembari menunggu antrian panjang, aku pun mengisinya dengan ngepo orang-orang yang sibuk wira-wiri memilih barang yang akan dibeli. Mungkin di dalam kepalanya sedang menghitung balance pemasukan dan pengeluaran. Tapi tak sedikit orang yang hanya jalan-jalan dang ngeceng untuk mengisi waktu *selone naudzubillah*. Beberapa menit mengepo akhirnya antrian bergerak satu langkah, lumayan. Adik laki-laki  lugu di depan ku yang ditinggal oleh ibunya mencari kesibukan dan hiburan sendiri itu pun tak pernah lepas memandangi ibunya dari antrian. Umurnya yang masih labil itu membuatnya tak mau jauh dari ibunya dalam keadaan sesempit apapun (re: ngantri panjang banget). Padahal antrian sudah bergerak maju 4 langkah. Si anak itu pun lari menemui ibunya, dan herannya si ibu tidak segera membawa anaknya kembali ke tempat antriannya lagi. Aku pun menempati posisi antrian si adik tadi sembari mengepo ibu dan anak kecil tersebut. 

Tak lama kemudian, di riuhnya suara dan padatnya orang-orang di dalam toko itu tiba-tiba ada suara yang menggelitik telinga sekaligus otakku. 


"Hei ! kau ini gimana sih ?!! sudah ditunggu daritadi, sudah antri panjang malah kau tinggal pergi?!! BODOH kamu !! kau ini malah ngapain sih ??! (sekali lagi) BODOH kamu!!"


Suara yang tak enak didengar apalagi di tempat umum itu pun terlontar cukup kencang dari seorang bapak-bapak bertubuh pendek, berjenggot tipis, berkulit cerah dan berkacamata yang mengenakan kemeja kaos dan jeans yang rapi. Tatapanku terfokus pada bapak tersebut dan segera kualihkan menuju siapa yang sedang bapak tersebut tatap dan ajak bicara. Ternyata dia sedang membentak istrinya yang ternyata adalah ibu dari anak kecil yang mengantri tepat di depanku tadi. 


Raut muka sang ibu biasa saja seolah tamparan keras kata-kata yang terlontar dari mulut suaminya itu sudah terlalu sering ia dengar. Kemudian ia dan anaknya pun berjalan cepat menuju antrian. Dia mengambil posisi antrian di belakangku. Sebagai cewek yang baik hati dan agak selo *sebenernya lagi terburu-buru tapi kasihan sama ibunya* aku memberinya posisi antrian di depanku seperti posisi awal. Sang ibu pun menurutinya tanpa sekatah katapun terucap. 


Dari kejadian itu aku melamun dan merenungkannya. Apakah orang yang sudah menikah dan menjadi suami istri akan selalu seperti itu? Apakah pantas seorang suami membentak dan memisuhi istrinya sendiri seperti itu? Setauku aku tidak pernah mendengar hal semacam itu dari mulut ayah maupun ibuku. 


Bagiku memang hal itu sangat tidak pantas dan merupakan tindakan yang tidak manusiawi walaupun hanya sekedar perkataan. Mungkin sang suami telah lupa akan janjinya di depan penghulu dan para saksi yang notabene akan menjaga dan memperlakukan istrinya dengan baik hingga tutup usia. Aku sering mendengar janji-janji itu di acara ijab qobul, dan selalu senang tiap mendengar dua mempelai yang saling berjanji akan saling menjaga dan memperlakukan dengan baik antara keduanya, karena cepat atau lambat jika diijinkan, aku pasti akan mengalami ucapan janji di depan penghulu tersebut. Mendengar janji tersebut aku merasa lega karena aku kira janji itu pasti akan ditepati oleh kedua mempelai. 


Kerap aku mendengar dan melihat berita-berita di media mengenai KDRT  bahkan sampai pembunuhan. Keduanya ini sering dialami dalam suatu rumah tangga seseorang, dan kini ditambah lagi dengan kenyataan di depan mata orang-orang yang merpelakukan pasangannya dengan kasar yang menyakiti hati maupun raga.


Ditambah lagi cerita lain. Dalam kronologi singkatnya aku pernah melihat dua pasang suami istri yang bertengkar di pasar (BTC Solo). Sang suami mengejar istrinya hingga berputar-putar, kemudian dari kejauhan sang suami menggunakan komunikasi non verbalnya, mengepalkan tangan tanda mengancam akan memukul ke arah istrinya yang tengah ketakutan mengintip dari manekin-manekin di depan toko.  Aku tidak habis pikir apa sebenarnya yang ada di benak mereka hingga masa kecilnya terulang pada masa tuanya. Kenapa mereka tidak bisa meredam kemarahan jika memang sedang ada masalah dalam rumah tangganya? Dan mengapa harus di tempat umum? Tidak cukupkah ruang rumahnya untuk tempat mereka berdisukusi dan mengkomunikasikan dengan baik untuk memecahkan masalah? 


Dalam hal ini 98% dari 100% yang ada pada kenyataannya bahwa yang dirugikan (Re: perlakuan kasar) adalah wanita (istri). Kejadian itu mendorongku untuk memukul keras keyboard laptop, mengutip sebuah kutipan yang tertera dalam sebuah hadist di agamaku : 


" Saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada wanita. Pasalnya, mereka tercipta dari tulang rusuk. Yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah yang paling atas. Jika berusaha meluruskannya, engkau akan membuatnya patah. Dan jika dibiarkan, ia akan terus bengkok. Karena itu, saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada wanita. "


Kutipan kiasan ini maksudnya adalah, 

Seorang suami harus tegas kepada istrinya jika memang istrinya melakukan kesalahan, agar ia tidak mengulangi kesalahannya. Namun tegas bukan berarti memperlakukan kasar dan memkasa, melainkan menuntunnya dengan perlahan dan dengan kelembutan agar ia tidak patah dan sakit jiwa maupun raga.

" Memperlakukan perempuan itu seperti saat kita bernafas, saat kitamenghirup udara tulang rusuk akan meregang sempit, bila kita menghembuskan napas maka ia akan mengembang mengikuti bentuk aslinya dan memberikan kelegaan. "


Maksudnya adalah ada kalanya suami harus membimbing istrinya sesuai pada norma-norma yang ada agar hidup keduanya kelak dapat menghirup keselamatan, tetapi kadang perlu juga seorang suami memberikan kelapangan jalan agar sang istri mengikuti kodrat dan nalurinya sebagai perempuan yang ingin dicintai dan disayang. 


Lamunan panjaaang itu pun berakhir dengan hadist yang sudah melekat dalam benakku atas kejadian yang sedikitnya bisa memberi pelajaran untukku dan mungkin calon imam ku kelak (Ya kali aja gitu si calon imam lagi baca ini :p). 


-kisah nyata-